TUGAS MAKALAH
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PENJURUSAN
DI SMA NEGERI 9 SEMARANG
DI SMA NEGERI 9 SEMARANG
NAMA
:
Riyan Jumiko (A12.2009.03681)
Sefian Dwi Anggoro (A12.2009.03692)
Eko Wahyu P. (A12.2009.03671)
R. Hadapiningsyah K. (A12.2009.03787)
Badru Zaman (A12.2009.03528)
KELP : A12.4702
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS DIAN
NUSWANTORO
SEMARANG
2013
Abstrak
Salah satu peran
SPK dibidang pendidikan yaitu pada proses pengambilan keputusan untuk pemilihan
jurusan siswa di SMA, yang sifatnya dapat membantu pengambil keputusan dalam
memberikan alternatif– alternatif putusan jurusan yang tepat bagi siswa, dimana
hasil keputusan dapat dijadikan sebagai bahan untuk membantu guru dalam
mengambil keputusan. Untuk mendukung hal tersebut diatas maka diperlukan suatu
sistem pendukung keputusan yang mampu memberikan dukungan terhadap proses
penentuan jurusan yang tepat untuk siswa di SMA. Proses penentuan jurusan ini
dengan cara mempertimbangkan kemampuan, bakat dan minat siswa terhadap suatu
jurusan, dengan menggunakan logika fuzzy. Logika fuzzy berfungsi melakukan
pemrosesan terhadap faktor kepastian dan ketidakpastian. Secara umum logika
fuzzy dapat menangani faktor ketidakpastian secara baik sehingga dapat
diimplementasikan pada proses pengambilan keputusan. Model logika fuzzy bekerja
dengan menggunakan derajat keanggotaan dari sebuah nilai, kemudian digunakan
untuk menentukan hasil yang diinginkan, berdasarkan aturan-aturan yang telah
ditentukan. Sistem pendukung keputusan penjurusan siswa SMA ini dibangun dengan
menggunakan microsoft visual basic 6.0 dan sql yog 205 sebagai databasenya,
sehingga diharapkan dapat memberikan keputusan yang tepat dengan hasil yang terbaik
dalam proses penentuan suatu jurusan.
Kata kunci: Sistem pendukung keputusan, Logika
Fuzzy, Pemilihan jurusan
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Lembaga
pendidikan seperti pendidikan SMA kerap kali membutuhkan suatu bentuk keputusan
dalam memilih jurusan yang sesuai untuk siswa-siswi SMA. Keputusan yang diambil
dalam memilih jurusan mungkin hampir benar sesuai dengan kemampuan, bakat dan
minat siswa atau mungkin juga salah. Pembuat keputusan harus benar-benar
mempertimbangkan pilihan yang sesuai untuk penjurusan tersebut. Sehingga
dibutuhkan sistem pendukung keputusan yang dapat mengklasifikasikan pola
penjurusan siswa kelas II di SMA dengan mempertimbangkan kemampuan, bakat dan
minat siswa terhadap suatu jurusan, dengan menggunakan logika fuzzy. Secara
umum logika fuzzy dapat menangani faktor ketidakpastian secara baik sehingga
dapat diimplementasikan pada proses pengambilan keputusan. Model logika fuzzy
bekerja dengan menggunakan derajat keanggotaan dari sebuah nilai, kemudian
digunakan untuk menentukan hasil yang diinginkan, berdasarkan aturan-aturan
yang telah ditentukan. Logika fuzzy memiliki kemampuan untuk menjelaskan secara
linguistik suatu sistem yang kompleks. Aturan-aturan dalam model fuzzy pada
umumnya dibangun berdasarkan keahlian manusia dan pengetahuan heuristik dari
sistem yang dimodelkan. Teknik ini selanjutnya dikembangkan menjadi teknik yang
dapat mengidentifikasi aturan-aturan dari suatu basis data yang telah
dikelompokkan berdasarkan persamaan strukturnya.
2.. LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi
Sistem
informasi [1] adalah sekumpulan elemen yang bekerja secara bersama-sama baik
secara manual ataupun berbasis komputer dalam melaksanakan pengolahan data yang
berupa pengumpulan, penyimpanan, pemprosesan data untuk menghasilkan informasi
yang bermakna dan berguna bagi proses pengambilan keputusan
2.2 Sistem Pendukung Keputusan
Sistem Pendukung
Keputusan [1] adalah sistem yang berbasis komputer yang ditujukan untuk
membantu pengambil keputusan dalam memanfaatkan data dan model tertentu untuk
memecahkan berbagai masalah yang semi terstruktur dan tidak terstruktur.
SPK terdiri atas 3 komponen utama
atau subsistem, yaitu:
1.
Subsistem
Data (Data Base)
Subsistem
data merupakan komponen SPK sebagai penyedia data bagi sistem. Data disimpan
dalan suatu rangkaian data (data base) yang diorganisasikan oleh suatu sistem
yaitu Sistem Manajemen Pangkalan Data [2] (Data Base Management System).
Pangklan data dalam SPK berasal dari dua sumber, yaitu sumber internal (dari
dalam organisasi atau perusahaan) dan sumber eksternal (dari luar organisasi
atau perusahaan).
2.
Subsistem
Model (Model Base)
Model
adalah suatu peniruan dari alam nyata [1] Pengolahan berbagai model dilakukan
dalam pangkalan model. Penyimpanan berbagai model dalam pangkalan model
dilakukan secara fleksibel untuk membantu pengguna dalam memodifikasi dan
menyempurnakan model.
3.
Subsistem
Dialog (User System Interface)
Subsistem
dialog adalah [6] fasilitas yang mampu mengintegrasikan sistem yang terpasang
dengan user secarainteraktif. Melalui subsistem dialog inilah sistem
diartikulasi dan diimplementasikan sehingga pengguna dapat berkomunikasi dengan
sistem yang dirancang. Hubungan antara ketiga komponen ini dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.
Gambar 2.1 Komponen Utama SPK (Daihani,
2001)
2.3 Logika Fuzzy
Logika Fuzzy adalah peningkatan dari logika Boolean yang mengenalkan konsep kebenaran
sebagian. Di mana logika klasik menyatakan bahwa segala hal dapat
diekspresikan dalam istilah binary (0 atau 1, hitam atau putih, ya atau tidak),
logika fuzzy menggantikan kebenaran boolean dengan tingkat kebenaran.
Logika Fuzzy [6] memungkinkan
nilai keanggotaan antara 0 dan 1, tingkat keabuan dan juga hitam dan putih, dan
dalam bentuk linguistik, konsep tidak pasti seperti "sedikit",
"lumayan", dan "sangat". Dia berhubungan dengan set fuzzy
dan teori kemungkinan. Dia diperkenalkan oleh
2.3.1 Fungsi Keanggotaan
Fungsi
keanggotaan [3] (membership function) adalah suatu kurva yang menunjukkan
pemetaan titik-titik input data ke dalam nilai keanggotaannya yang memeiliki
interval antara 0 sampai 1
1. Representasi Kurva Segitiga
Fungsi keanggotaan segitiga
ditandai oleh adanya 3 (tiga) parameter {a, b, c}, yang akan menentukan
koordinat x dari tiga sudut.
Gambar 2.1. Representasi Kurva
Segitiga
2. Representasi Kurva Bentuk Bahu
Himpunan fuzzy
bahu digunakan untuk mangakhiri variabel suatu daerah fuzzy. Bahu kiri bergerak
dari benar ke salah, demikian juga bahu kanan bergerak dari salah ke benar.
Gambar 2.2. Representasi Kurva
Bentuk Bahu
2.3.2. Fungsi-fungsi Implikasi
Tiap-tiap aturan
(proposisi) pada basis pengetahuan fuzzy akan berhubungan dengan suatu relasi
fuzzy. Bentuk umum proposisi menggunakan operator fuzzy adalah:
If x is A then y
is B Dengan x dan y adalah skalar, dan A dan B adalah himpunan fuzzy. Proposisi
yang mengikuti If disebut sebagai anteseden, sedangkan proposisi yang mengikuti
then disebut sebagai konsekuen. Proposisi ini dapat diperluas dengan
menggunakan operator fuzzy, seperti: If (x1 is A1) ø (x2 is A2) ø (x3 is A3) ø
....... ø (xn is An) then y is B Dengan ø adalah operator (misal: OR atau AND).
2.3.3. Komposisi Aturan
Inferensi [5] diperoleh
dari kumpulan dan korelasi antar aturan. Solusi himpunan fuzzy diperoleh dengan
cara mengambil nilai maksimum aturan, kemudian menggunakannya untuk
memodifikasi daerah fuzzy, dan mengaplikasikannya ke output dengan menggunakan
operator OR (union). Jika semua proposisi telah dievaluasi, maka output akan
berisi suatu himpunan fuzzy yang merefleksikan kontribusi dari tiap-tiap
proposisi. Secara umum metode ini dapat dituliskan:
Csf [xi] = max(Csf [xi], Ckf
[xi])
Dengan:
Csf [xi] = nilai keanggotaan
solusi fuzzy sampai aturan ke-i
Ckf [xi] = nilai keanggotaan
konsekuen fuzzy sampai aturan ke-i
2.3.4. Penegasan (Defuzzy)
Input dari
proses deffuzy adalah suatu himpunan fuzzy yang diperoleh dari komposisi
aturan-aturan fuzzy, sedangkan output yang dihasilkan merupakan suatu bilangan
pada domain himpunan fuzzy tersebut
Sehingga jika
diberikan suatu himpunan fuzzy dalam range tertentu, maka harus dapat diambil
suatu nilai cripst tertentu sebagai output. Metode defuzzy pada komposisi
aturan mamdani :
a) Centroid.
b) Bisektor.
c) Mean of Maximum (MOM).
d) Largest of Maximum (LOM).
e) Smallest of Maximum (SOM).
4.
ANALISIS
DAN PERANCANGAN SISTEM
3.1 Analisis Sistem
Sistem pendukung
keputusan penjurusan siswa SMa ini adalah suatu sistem yang digunakan untuk
mengklasifikasikan pola penjurusan siswa-siswi yang naik kelas 2 SMA. Proses
penjurusan tersebut mempertimbangkan
beberapa aspek yaitu nilai rapor, tes bakat dan minat siswa. Ada dua pengguna
(user) yang dapat menggunakan sistem ini yaitu, Guru dan Biro Konsultasi. Biro
Konsultasi dalam sistem ini sebagai pengolah data tes bakat siswa. Guru dalam
sistem ini sebagai pengolah data siswa, data mata pelajaran, data nilai rapor
dan data minat yang kemudian akan diproses menggunakan logika fuzzy. Guru dapat
melakukan perubahan pada basis pengetahuan seperti menambah data, menghapus
data dan
mengedit data
sehingga Guru disebut sebagai admin.
5.
HASIL
Sistem
pendukung keputusan ini menghasilkan sistem yang dapat membantu pengguna dalam
memutuskan jurusan yang tepat bagi siswa berdasarkan perhitungan fuzzy dari
masing-masing data nilai rapor, dan nilai minat. Dari data tersebut dihitung
fungsi keanggotaannya masing-masing. Untuk melakukan proses penjurusan maka
terlebih dahulu user memasukkan data tahun ajaran. Data tahun ajaran tersebut
digunakan untuk mengecek siswa mana saja yang terdaftar di kelas satu pada
tahun ajaran yang berlaku. Untuk mengetahui siswa mana saja yang terdaftar pada
tiap jurusan, terlebih dahulu user memasukkan jumlah kapasitas kelas yang
tersedia pada tiap jurusan, kemudian pada form penjurusan dan rangking akan
keluar ipa ips dan bahasa , untuk
memproses data perhitungan fuzzy dan pemilihan jurusan yang sesuai dengan siswa
tersebut. Jika terdapat jurusan yang jumlah siswanya melebihi kapasitas yang
disediakan maka akan muncul pesan yang menyatakan berapa banyak jumlah siswa
yang melebihi kapasitas dari jurusan tersebut. Sehingga akan muncul fasilitas
untuk memindahkan jumlah siswa yang melebihi kapasitas dari jurusan tersebut ke
jurusan lainnya yang masih menampung berapa banyak siswa sesuai dengan
kapasitas yang disediakan. Untuk melihat form penjurusan dapat dilihat pada
gambar 4.1.
6.
KESIMPULAN
Berdasarkan pada proses pembuatan
sistem pendukung keputusan penjurusan SMA dengan metode logika fuzzy maka dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Logika
fuzzy dapat diterapkan dalam memilih salah satu jurusan di SMA dengan
kemungkinan hasil atau output yang yang lebih baik , karena setiap keluaran
atau output data disertai atau diberikan nilai dukungan yaitu persentase
kedekatan atau nilai keanggotaan (degree of membership).
2.
Dari
logika fuzzy ini dapat ditentukan nilai keanggotan yang memenuhi dalam target pemilihan dan dapat memenuhi
kriteria pemilihan sehingga sesuai dengan kemampuan siswa.
7.
DAFTAR
PUSTAKA
[1] Daihani, U.D. ,2001, Komputerisasi
Pengambilan Keputusan, Elex Media Komputindo, Jakarta.
[2]
Jogiyanto, H.M., 1997, Pengenalan Komputer, Andi, Yogyakarta.
[3]
Kadir, A., 1999, Konsep Dan Tuntunan Praktis Basis Data, Andi, Yogyakarta.
[4 ]Kadir, A., 2004, Pemrograman
Database dengan Delphi 7 menggunakan Access dan ADO, Andi,
[5] Yogyakarta. Kristanto, H., 1996,
Konsep dan Perancangan Database, Andi, Yogyakarta.
[6 ] Kusumadewi, S, 2004, Aplikasi
Logika Fuzzy untuk Pendukung Keputusan, Graha Ilmu, Yogyakarta.
[7]
Mangkulo, A.H., 2004, Pemrograman Database Menggunakan Delphi 7.0, Elex
Media Komputindo, [8]Jakarta. Pressman, S.R., 2002, Rekayasa Perangkat Lunak
(Pendekatan Praktisi), Andi Ofset, Yogyakarta.






















